I laugh, I love, I hope, I try, I hurt, I need, I fear, I cry, I blog...Welcome to my blog, welcome to my life !!
Author: Cherry Sitanggang
•16:21
 
 
Keberangkatan gue besok menuju Siem Reap diisi dengan berita sedih. Gue baru menerima balasan email dari pihak Golden Temple Villa, tempat gue menginap di Siem Reap tahun lalu, mengabarkan bahwa Mr. Sambo, supir tuktuk yang selalu menemani gue berkeliling Siem Reap, ternyata telah meninggal dunia, bulan yang lalu.

Berita yang sangat mengagetkan, terlebih di saat gue sibuk mencari cara menghubungi Mr. Sambo lagi, supaya beliau bisa menjadi supir tuktuk sekaligus teman andalan gue lagi dalam trip kali ini. Tahun lalu, Mr. Sambo sempat memberikan kartu namanya supaya gue bisa menghubungi beliau kalau berkunjung ke Siem Reap lagi. Beberapa hari terakhir gue sudah mencoba mencari kartu nama Mr. Sambo, tapi ngga menemukan. Siang tadi akhirnya gue memutuskan untuk mengirim email ke pihak Golden Temple Villa, untuk menanyakan nomor telepon Mr. Sambo. Sebenarnya awalnya gue agak ragu akan mendapatkan tanggapan, berhubung kali ini gue tidak akan menginap di Golden Temple Villa. Tapi ternyata, gue justru menerima berita menyedihkan.

Gue ngga akan lupa kebaikan Mr. Sambo selama gue di sana. Beliau adalah partner perjalanan yang sangat menyenangkan. Mr. Sambo adalah bagian dari cerita perjalanan gue ke Siem Reap tahun 2011 yang lalu, yang semuanya berjalan dengan indah dan berkesan. Mr. Sambo, tuktuk merahnya, dan sikapnya yang sangat ramah dan baik. Sosok yang ngga mungkin gue lupakan, sampai kapan pun. 

Gue akan selalu ingat orang - orang yang gue temui dalam perjalanan bekpekeran gue. Terlebih orang - orang yang memberikan keramahan dan kebaikan nan tulus, di saat gue berada jauh di negeri orang, sendirian. Orang - orang yang selalu gue sebut sebagai 'malaikat' yang dikirim Yesus untuk menemani kesendirian gue dalam berpetualang. Dan Mr. Sambo salah satunya. Sosok yang memiliki kesabaran di atas rata - rata, karena bisa menemani gue dan meladeni apapun permintaan gue. Meskipun sulit karena kendala komunikasi...atau karena keinginan gue yang diluar batas wajar...
 
Bahkan Mr. Sambo adalah salah satu yang paling spesial. Dan berita kepergiannya meninggalkan kesedihan di hati gue..Kali ini ngga ada lagi yang menyambut gue di airport dengan senyum tulusnya seraya membawa kertas bertuliskan "Welcome, Cherry Sitanggang"...ngga ada lagi Mr. Sambo yang akan setia mengantar gue sepanjang hari, bahkan dari matahari baru terbit, sampai awan malam menyelimuti langit. Mr. Sambo sudah kembali ke pangkuan Sang Pencipta. Beristirahatlah dengan tenang, Mr. Sambo...Maaf karena tidak sempat ada ucapan selamat jalan sempat terucap menjelang kepergian Mr. Sambo. Gue akan selalu mengenang Mr. Sambo sebagai sahabat jauh gue, yang akan selalu tersenyum ramah dan menawarkan kebaikan hatinya yang tulus kepada siapapun.


Author: Cherry Sitanggang
•18:29
Kamis, 08 Maret 2012, gue kembali ke comfort zone, Singapura.

Selain karena tiketnya udah dibeli jauh - jauh hari, juga karena gue emang benar - benar butuh break dari urusan pekerjaan yang terlalu melelahkan pikiran dan fisik belakangan ini.

Yang menarik dari trip kali ini, akhirnya gue bisa mewujudkan impian untuk ngerasain tinggal di hostel / penginapan yang berbeda tiap malamnya. Sebenarnya sejak trip bekpekeran pertama kali tahun 2009 yang lalu, gue pengen mewujudkan rencana kayak begini, tapi batal karena ternyata merepotkan dan melelahkan. Tapi kali ini, situasilah yang memaksa gue untuk loncat dari hostel satu ke yang lainnya.
Kamis, 08 Maret 2012

Hostel pertama yang gue singgahi di trip kali ini adalah Fern Loft Hostel, Little India, yang terletak di 257 Jalan Besar Road. Sejak dari Jakarta gue udah reservasi melalui www.hostelbookers.com untuk ranjang di '6 bed - mix dorm room' dengan rate SGD 20.

Lantai dasarnya dijadikan ruang lobby, resepsionis, ruang duduk dan sarapan, yang disusun sedemikian rupa jadi tampak artistik dan nyaman. Kamar terletak mulai di lantai 2. Mungkin karena warna di kamar ini didominasi warna cerah mulai dari cat tembok dan sprei ranjangnya, jadi memberi kesan luas. Walaupun tanpa dilengkapi jendela tapi suasana di dalammnya tetap nyaman, karena fasilitasnya lengkap, mulai dari kipas angin, exhaust fan dan AC.

Selimutnya....gue suka selimutnya yang tebal dan hangat, karena mengingatkan gue sama selimut di kamar tidur di rumah gue. Biasanya hostel - hostel paling hanya menyediakan sebuah kain tipis sebagai selimut.

Di lantai 2 ini terdapat 2 kamar mandi yang berfungsi sekaligus sebagai toilet. Pasti tiap pagi keduanya jadi bahan rebutan. Gue kurang sreg karena toiletnya ngga dilengkapi dengan semprotan air, dan lagi hostel ngga menyediakan hair drier. Hair drier tuh penting banget buat gue yang butuh waktu cukup lama untuk sekedar mengeringkan rambut habis keramas.

Malam ini gue gak akan tidur di kamarnya Loft Fern Hostel yang mungil dan nyaman dengan selimut tebalnya itu. Gue akan melalui malam ini di bus malam tujuan Johor Baru - Kuala Lumpur. Gue reservasi di Loft Fern Hostel karena gue butuh tempat untuk mandi, beristirahat sejenak (1 jam) dan menitipkan ransel karena gue akan langsung bertolak ke Kuala Lumpur.

Walaupun tidak akan menginap di sini esok hari, tapi pihak Fern Loft mengijinkan gue menitipkan ransel di loker yang ada di lantai 1. Loker disediakan dengan gratis, tapi gue harus menggunakan gembok dan kunci sendiri.

Jumat, 09 Maret 2012 (pagi)

Gue tiba di Terminal Bersepadu Selatan, Kuala Lumpur, hampir jam 4 pagi. Sekitar jam 5 gue menuju lantai 2 terminal, tepatnya ke hotel transit bernama Rest & Go. Dengan RM 15 per jam, tamu bisa menikmati tidur di kasur empuk di dalam kamar sempit dengan pintu geser.

Sekitar jam 7 pagi, ketukan keras di pintu membangunkan gue. Ternyata sudah 2 jam sejak gue check in tadi, yang berarti sudah waktunya gue keluar dari kamar. Jadi begitulah cara sang resepsionis mengingatkan para tamunya untuk segera check out dari hotel.

Selain kamar, hotel ini juga menyediakan pelayanan lainnya seperti pijat, internet, dan tempat penitipan bagasi.

Sayangnya hotel - yang buat gue pantas disebut hotel terkecil di dunia ini - ngga menyediakan kamar mandi dan toilet. Tamu dipersilahkan untuk menggunakan kamar mandi dan toilet yang ada di area terminal.

Jumat, 09 Maret 2012 (Malam)

Gue tiba kembali di Singapura sekitar jam 10 malam. Dengan tergesa - gesa gue menuju Fern Loft Hostel untuk mengambil ransel. Setelah itu gue langsung menuju Tresor Tavern Hostel yang letaknya hampir bersebelahan dengan Loft Fern.

Gue reservasi di TresorTavern Hostel melalui www.hostelbookers.com, untuk ranjang di '12 bed-mix dorm room" dengan rate USD 14.31. Kondisi kamarnya agak - agak mengerikan. Dari 12 ranjang berbentuk bunk bed yang tersedia, 9 diantaranya sudah ditempati oleh penghuni tetap. Penghuni tetap ini adalah warga non Singapura yang tinggal dan bekerja di Singapura. Dan ranjang di bawah gue, sepertinya dijadikan tempat menggantung dan menumpuk pakaian mereka. Di setiap kolong tempat tidur berserakan koper, sepatu, kaus kaki, dan sampah. Di atas setiap loker, terdapat tumpukan sampah lainnya, sisa makanan atau koran bekas. Nyaris semua yang ada di kamar ini tidak sedap di mata dan hidung gue.

Baru beberapa saat tertidur, gue dibangunkan oleh suara yang nyaris menyerupai suara terompet bersahut - sahutan. Ternyata suara mengganggu itu adalah dengkuran maha dahsyat dari salah satu penghuni. Gue penasaran untuk mencari asal suaranya, tapi kesulitan karena lampu kamar dipadamkan. Dengan seketika suara ini melenyapkan napsu dan kenyamanan tidur gue. Dalam hati gue mengutuki si pendengkur sialan yang sudah mengacaukan acara tidur gue, sementara badan gue sudah sangat lelah karena perjalanan panjang Kuala Lumpur - Singapura. Suara dengkurannya memiliki efek teror ke telinga dan hati gue !

Sabtu, 10 Maret 2012

Pagi pun datang, dan suara dengkuran tetap tak berakhir. Gue pun turun dari ranjang dan bersiap - siap untuk mandi. Setelah itu gue sarapan di lantai 1 hostel. Sarapan pagi itu adalah buah apel, roti bakar dan teh hangat.

Selesai sarapan gue menuju ruang internet. Yang kurang menyenangkan lagi di hostel ini adalah fasilitas internet yang tidak gratis. Tamu harus membayar SGD 1 per 30 menitnya. Padahal pagi itu gue harus mencari informasi hostel, karena gue pengen segera kabur dari Tresor Tavern Hostel. Setelah mendapatkan beberapa alamat dan nomor telepon, menyiapkan ransel, dan meninggalkan hostel. Dalam hati gue berjanji untuk tidak akan pernah lagi menginap di sana.

Pagi ini gue menghubungi beberapa hostel untuk mencari ranjang kosong, dan itu adalah hal yang sulit karena sedang weekend. Akhirnya kabar gembira datang dari ABC Hostel di Bugis, karena disana masih tersedia mix dorm room. Gue tiba di sana sejam kemudian dan segera check in dengan membayar SGD 24 untuk '6 bed-mix dorm room'.

Kamarnya, walaupun kecil dan berisi 3 pasang bunkbed, adalah kamar ternyaman dan terbersih dalam catatan bekpekeran gue kali. Ngebandingin nyamannya kamar di ABC sama Tresor Tavern, bagaikan langit dan bumi...terlalu jauuuhh ! Semua bersih...bahkan sprei biru langitnya pun terlihat bersih meyakinkan. Seprei ranjang gue di Tresor Tavern semalam sangat mencurigakan...kayaknya seseorang udah menempati ranjang itu sebelum gue.

Minggu, 11 Maret 2012

Gue bangun sekitar jam 5 pagi, karena harus mengejar MRT pertama tujuan Changi airport yang akan datang jam 6.30. Selesai mandi dan membereskan ransel, gue ke dapur untuk sekedar mencari air putih untuk minum vitamin. Seorang staf hostel, laki - laki, sedang sibuk menyiapkan sarapan pagi itu. Gue ngga berharap bisa sarapan karena baru akan dimulai jam 7.30 setiap paginya. Tapi begitu staf yang ramah itu selesai, gue tergoda untuk bertanya apakah boleh memulai sarapan. Dengan ramah staf ini pun mempersilahkan. Bahkan dia berpesan, kalo lain waktu gue tinggal di ABC dan flight gue lebih pagi lagi, gue tinggal memberitahukan ke resepsionis supaya sarapannya bisa disiapkan lebih pagi.

Gue senang bukan main, karena masih berkesempatan menikmati roti gosong ala hostel sebelum kembali ke Jakarta.

Setelahnya, gue meninggalkan ABC hostel menuju Bugis MRT Station dengan perut kenyang dan hati senang.

Gue senang tinggal di hostel. Selain karena harganya yang backpacker friendly, banyak pengalaman unik dan seru yang bisa didapat. Pengalaman yang bisa jadi menyenangkan atau menyebalkan, tapi akan selalu berkesan. Tinggal di hostel, mau ngga mau, membuat orang bertemu dan saling berbagi dengan banyak orang lainnya dari negara dengan kultur yang berbeda. Privasi nyaris ngga ada, digantikan sama tuntutan untuk bertoleransi dengan sesama penghuni hostel. Dan yang terpenting, tinggal di hostel menuntut pribadi yang mandiri, berani dan senang bersosialisasi.
Author: Cherry Sitanggang
•13:31
Hari Jumat (02 Maret 2012) yang lalu akhirnya gue menerima hadiah kuis Good 2 Great Newsletter, berupa iPad2. Rasanya ? Senang, lega, tapi dengan antusiasme yang biasa - biasa saja. Hal pertama yang terlintas di benak gue saat memegang iPad2 yang masih tersimpan rapi di dalam kardusnya ini adalah : dipakai atau dijual ?

Ini pertanyaan yang kerap terngiang - ngiang sepanjang masa penantian gue sampai menerima iPad2 ini. Gue pengen menjualnya, karena gue ngga merasa membutuhkan sebuah iPad2. Untuk urusan gadget, gue emang ngga seperti kebanyakan orang, yang cenderung berlomba - lomba untuk memiliki gadget terbaru dan tercanggih. Gue, sangat amat nyaman dan bahagia dengan Nokia seri lama yang kondisinya masih super sampai saat ini. Yang terpenting, dengan handphone ini gue masih bisa berkomunikasi dengan Mama, kapan pun dan di mana pun.

Gue ngga pernah berminat dan berniat untuk memiliki Blackberry. Saat perusahaan mendesak agar gue memiliki blackberry sebagai fasilitas kantor, gue menolak dengan berbagai cara. Alasannya, bagi gue blackberry adalah perangkat yang terlalu rumit untuk digunakan. Terlebih, gue ngga pengen membuka akses diri selebar - lebarnya, apalagi hanya untuk urusan pekerjaan.

Laptop yang gue miliki pun sejauh ini fungsinya cuma untuk menonton DVD dan diary elektronik.

Dan sekarang iPad2...gue mempertimbangkan untuk menjualnya terutama karena gue ingin membagi kebahagiaan dan kemenangan gue sama Mama. Mama sangat amat tahu antusiasme gue untuk mengikuti kuis. Kuis apapun, yang diselenggarakan oleh siapapun.

November tahun lalu, saat gue menang kuis yang diadakan oleh Air Asia Indonesia, dan memenangkan tiket wisata ke Langkawi - Malaysia, Mama turut senang. Setelah itu Mama berpesan "Lain waktu kalo kau ikutan kuis, cari yang hadiahnya barang atau uang aja ya, Cher...Jangan lha yang hadiahnya tiket jalan - jalan. Capek Mama nungguin kau nanti..." Pesan Mama bagaikan doa buat gue. Hanya 2 bulan setelah itu, kali ini gue memenangkan sebuah iPad2.

Setelah berbagai pertimbangan, akhirnya gue memutuskan untuk tidak menjual iPad2 baru ini, dan menyimpannya. Gue batal menjualnya karena iPad2 ini akan selalu mengingatkan gue, tentang tak sepeser pun uang gue keluarkan untuk memilikinya...tentang antusiasme dan semangat tinggi gue untuk mengikuti kuis, yang nampaknya jadi semacam hobi....tentang keberuntungan gue memenangkannya di antara ratusan peserta kuis lainnya yang merupakan karyawan perusahaan yang tersebar di beberapa benua yang berbeda...dan pastinya tentang doa Mama yang selalu menyertai gue, bahkan dalam urusan kuis sekalipun.

Saat ini, iPadnya masih tersimpan tersegel rapi di dalam kardus. Mungkin suatu saat nanti, kalo mulai berminat menggunakannya, akan gue buka dan gunakan. Terima kasih untuk iPad2nya, Yesus...
Author: Cherry Sitanggang
•17:29
Suatu waktu, pulang dari kantor, gue akan tiba di rumah sekitar jam 8 malam. Hal pertama yang gue lakukan adalah melepaskan lelah sejenak dengan merebahkan tubuh di mana Mama berada, kadang di kamar tidurnya, atau di ruang keluarga. Sekedar curhat ato menonton tivi bersama, mengomentari berita ato gosip ini - itu...pokoknya istirahat. Di saat bersamaan Bapak akan bangkit dari duduknya, menuju dapur dan segera menyiapkan perlengkapan juicer andalannya. Geraknya lincah dan sigap...mengeluarkan beberapa wortel segar dan brokoli dari kulkas lalu membersihkannya. Beberapa saat kemudian suara - suara yang terdengar adalah, deru mesin juicer, dentingan gelas dan sendok, diakhiri dengan suara Bapak, "Minum juice mu ini, Cher.." Abis itu, Bapak akan membereskan peralatan juicernya lagi, dan mencuci setiap bagiannya dengan sangat hati - hati dan mendetil.

Di lain waktu, karena harus lembur di kantor atau sekedar ada janji dengan teman lama di mall terdekat, gue akan tiba di rumah jam 10 atau bahkan jam 11 malam. Rutinitasnya akan tetap sama. Mama pantang tidur kalo anak - anak perempuannya belum pulang, dan Bapak pantang tidur kalo belum menyiapkan juice untuk para perempuan di rumah. Khusus untuk gue, Bapak cuma akan mulai membuat juice kalo gue udah tiba di rumah. Alasan Bapak, wortel harus langsung diminum setelah dijuice, ngga boleh ditunda. Beda sama juice sirsak dan apel untuk Mama, atau juice jambu merah untuk Anggira.

Biasanya begini cara Bapak menyiapkan juice untuk ketiga perempuan di rumah. Sekitar jam 7 malam, Bapak akan mulai 'menggarap' juice untuk Mama dan Anggira, kemudian menyimpannya di kulkas untuk diminum oleh pemiliknya masing - masing, sesuai selera. Setelah itu Bapak akan mencuci peralatan juicer yang sebenarnya tidak simple dan sederhana itu, dan segera mengeringkannya. Lalu begitu gue pulang, Bapak akan menyiapkan peralatan juicernya lagi, membuat juice, lalu mencuci peralatan tersebut lagi. Melelahkan....

Gue pernah nanya ke Mama, kenapa cara kerja Bapak merepotkan diri sendiri begitu...bukankah lebih baik Bapak menyiapkan juicenya sekaligus yaitu saat gue tiba di rumah. Mama senyum, bukan karena tau alasannya, tapi karena sangat tau kalo Bapak akan melakukan apapun dengan caranya sendiri, yang baginya paling tepat dan nyaman dilakukan.

Selain itu, Bapak selalu siap mengingatkan gue mengenai posisi stok buah dan sayur di kulkas. Bapak ingin memastikan kekosongan stok yang menyebabkan ketidaktersediaan juice untuk ketiga perempuan, tidak sampai terjadi.

Setiap hari Kamis, Bapak ada jadwal rutin latihan paduan suara gereja. Biasanya, Bapak akan menyiapkan juice untuk gue sepulang dari latihan. Tapi Kamis kali ini berbeda. Saat gue pulang kantor, gue sudah menemukan gelas juice gue tersedia di meja makan. Ternyata bukan juice wortel dan brokoli, seperti biasanya, melainkan jambu merah plus apel, yang disiapkan Bapak sebelum berangkat latihan. Kata Mama, khusus malam ini gue 'libur' dulu minum juice wortel dan brokoli, karena Bapak akan pulang larut malam. Ada hal yang harus dilakukan sepulang dari latihan paduan suara.

Bikinin juice tiap malam untuk ketiga perempuan di keluarga, emang jadi rutinitas Bapak sejak sekitar 2 tahun terakhir. Bukan rutinitas sembarangan, melainkan hal yang dilakukan Bapak dengan sangat senang dan bangga. Bukan karena Bapak kekurangan aktifitas untuk mengisi hari - harinya pasca pensiun. Untuk seorang kakek berusia 68 tahun, stamina Bapak cukup prima, dengan gerak - gerik yang ngga kalah dengan kaum muda. Ngga ada yang bisa mencegah dan membuat Bapak menghentikan rutinitasnya, kecuali saat kehabisan stok buah, ato listrik mati.

Juice buatan Bapak adalah juice paling istimewa yang tak ternilai harganya. Ada cinta dan kasih sayang di setiap gelas juice yang Bapak buatkan untuk gue, Mama dan Anggira. Dari berbagai cara Bapak mengungkapkan kasih sayang kepada keluarganya, membuat juice adalah hal paling lembut dan unik yang dilakukan Bapak. Setiap sedang menikmati juice buatan Bapak, pikiran gue menerawang dan mengucapkan doa pada Yesus, "Semoga Yesus memberikan Bapak kesehatan dan kekuatan, supaya Bapak bisa tetap melakukan hal kesukaan dan kebanggaannya : menyiapkan juice untuk gue, Mama dan Anggira.
Author: Cherry Sitanggang
•18:26
Pak Deddy, sang pawang gajah Aries, mengenalkan gue pada Queen, anak gajah yang baru berusia hampir setahun, yang tingginya belum lebih dari pinggang gue. Queen punya kebiasaan lucu, dia suka menyeruduk orang yang menjadi teman bermainnya, trus mengatur posisi hingga pantatnya membelakangi orang tersebut, dan dalam sekejap dia akan memberikan tendangan mautnya, dengan kaki kiri lalu kaki kanan. Inilah yang dia lakukan ke gue berkali - kali, tanpa ngerasa cape ato bosan.

Gue cuma bisa ketawa ngakak sejadi - jadinya ngeliat kelakukan Queen yang super lucu ini. Sesekali gue akan membalasnya dengan balik mengejar dan menggelitiki kaki Queen yang tampaknya sangat bangga dengan tendangan mautnya, yang entah dari siapa dipelajarinya. Ria, sang induk, tidak keliatan over protektif sama sekali. Dia asyik merumput. Kata Pak Deddy, Ria akan tenang dan senang mengamati anaknya bermain - main. Tapi kalo dia melihat atau mendengar Queen berteriak seperti layaknya anak kecil mengeluh atau menangis, Ria akan segera beraksi dan siap melindungi anaknya.

Ngga beberapa lama kemudian, Mega dan si kecil Ratu datang mendekat. Mega tampak selalu membuntuti Ratu, sehingga awalnya gue berpikir dia adalah sang induk. Sampai Pak Deddy menjelaskan, "Ini Mega, Mbak Yu'nya...". Gue heran dan balik bertanya, "Mbak Yu maksudnya apa, Pak ? Dia kakaknya ?" Pak Deddy jawab, "Bukan, dia yang tugasnya menjaga Ratu. Dan dia sangat menyayangi Ratu, sampai - sampai dia lebih rela tidak makan asalkan Ratu makan..."

Hari ini, gue dikenalkan lagi sama satu sisi istimewa dari seekor gajah. Betapa gajah sangat menjunjung tinggi nilai kasih sayang dan solidaritas. Dalam hal perasaan, gajah ngga jauh berbeda dengan manusia, hanya saja manusia terkadang menjadikan perasaan - perasaan indah itu menjadi lebih kompleks dan rumit. Hal ini membuat gue semakin sayang sama mamalia yang satu ini. Perasaan kagum dan bahagia yang bisa gue rasakan ditengah kawanan gajah ini, membuat gue melupakan lelahnya perjalanan yang harus gue tempuh dari Jakarta menuju Taman Nasional Way Kambas, Lampung ini.

Walaupun belum puas bermain - main bersama Queen dan Ratu, keasyikan lain segera menyita perhatian gue. Kali ini, tepat di tengah padang rumput hijau dan luas di taman nasional ini, gue pengen 'belajar' cara menunggang gajah seperti layaknya seorang pawang. Tepatnya, bagaimana mengendalikan jalan gajah dengan teknik yang benar. Saat menunggang kuda, gue mengandalkan kaki dan tali kekang untuk mengendalikan langkah dan arah kuda. Ternyata tekniknya ngga jauh berbeda dengan gajah. Kaki gue dan ganco adalah alat untuk mengendalikan jalan gajah. Di balik itu, sebenarnya kecerdasan dan kerja sama sang gajahlah yang paling berperan. Dengan tubuhnya yang raksasa, sebenarnya Aries, ato gajah manapun, bisa dengan mudahnya melemparkan tubuh gue dari punggung mereka. Tapi, gajah adalah makhluk yang sangat bersahabat. Jadi, bukan rasa takut yang membuat mereka mau bergerak sesuai dengan keinginan kita, tapi rasa sayang dan insting mereka.

"Kelas" menunggang ini memberikan perasaan senang seluas samudra di hati gue. Ini pengalaman yang luar biasa istimewa...walaupun setiap detiknya diisi dengan teriakan - teriakan histeris gue, karena rasa takut dan bersemangat di saat bersamaan. Tapi Pak Deddy selalu sabar mengingatkan, kalo Aries sangatlah kooperatif dan tidak akan melakukan tindakan - tindakan agresif yang akan membahayakan gue.

Taman Nasional Way Kambas adalah tempat favorit gue. Karena disini, gue bisa bertemu dan berinteraksi dengan sahabat - sahabat istimewa gue, para gajah. Para gajah yang selalu membuat gue takjub dengan segala hal yang ada pada diri mereka, dan apa yang mereka lakukan. Ini adalah kedua kalinya gue mengunjungi Taman Nasional Way Kambas...kedua kalinya gue bertemu Aries dan kawan - kawannya yang tersebar di taman nasional yang sangat luas ini. Ini adalah tempat istimewa gue, karena sejauh ini, baru disinilah gue melihat sahabat kesayangan gue, gajah, hidup dengan bebas dan cukup bahagia.

Gue berjanji, selama Yesus mengijinkan dan memampukan gue, baik dari segi keuangan, waktu, tenaga, dan apapun yang dibutuhkan untuk gue bisa berkunjung ke sini lagi, gue akan melakukannya ! Beberapa tahun silam, gue sempat pesimis dan putus asa untuk mencari jalan menuju taman nasional ini. Yesus udah menunjukkan jalannya untuk gue, dan gak akan gue sia - siakan. Sampai berjumpa lagi, Aries, Ria, Queen, Mega, Ratu dan gajah - gajah lainnya. Sampai kita bertemu lagi suatu saat nanti, semoga Yesus senantiasa melindungi dan memenuhi kebutuhan kalian. Amin.